Sebuah Kisah Yang Belum Usai : Masih yang dulu

Sebuah Kisah Yang Belum Usai : Masih yang dulu

Yang dulu

“Kamu berubah”, reni membuka percakapan antara kita berdua. “apa yang berubah dariku ren?, aku masih zenal yang dulu kamu kenal, masih suka becanda, supel dan masih suka bertualang sendiri, ngga ada yang berubah sedikitpun”. “ngga, kamu udah berubah. Kamu bukan zenal yang aku kenal dulu, bantah reni”. Aku sendiri pun merasa sedikit aneh dengan sikap reni tersebut, aku masih belum menangkap apa yang dimaksud reni kalau aku berubah. Aku juga belum tahu apa maksudnya mengajak bertemu sore ini. “kamu udah ngga kaya dulu lagi”, lanjut reni. “Hemh… ren coba apa sih yang membuat kamu anggap aku udah berubah? Aku masih belum menangkap apa yang kamu maksud”. Reni terdiam, dia seakan ingin menjelaskan  sesuatu. “ah sudahlah jangan dibahas lagi, kata reni”. Aku pun semakin bingung, aku bukanlah ahli dalam menebak, bukan pula ahli memahami seorang wanita. Aku semakin kikuk dengan keadaan yang sekarang menghampiriku ini.

Pada akhirnya reni membuka topik lain, menanyakan kabar, pekerjaan dan dengan siapa aku sedang menjalin hubungan. Memang sudah cukup lama kita ngga ketemu mungkin 2 tahun, tapi aku masih sering kontak dengan dia sampai dengan 6 bulan lalu, dia mengabari bahwa dia akan tunangan dengan seoarang pria yang dia kenal di kampusnya. Reni pernah mengirim pas photo mereka berdua, aku lihat sangat cocok sekali, dan itu adalah salah satu alasan aku tidak menghubunginya lagi selama 6 bulan ini. Aku tidak mau mengganggu hubungan orang yang sudah selangkah lagi menuju jenjang pernikahan, oleh karena cerita masa lalu antara aku dan reni. “kamu masih sendiri aja nih?” perkataan reni itu membuyarkan lamunanku. “iya aku masih sendiri, dalam hati bergumam, aku masih nunggu kamu ren”. Ze, aku dah tunangan nih, masa kamu masih sendiri, nanti aku ngga mau pas aku nikah nanti kamu dateng ngga bawa pasangan kamu, kamu wajib bawa pasangan pokoknya”. “ya liat nanti aja ya, aku ngga bisa janji buat bawa pasangan”, kataku kepada reni dengan sedikit becanda. Kita berdua ngobrol ngalor ngidul layakanya orang yang sudah sangat lama sekali ngga pernah ketemu, ngga kerasa udah 2 jam dan jam di hape udah liatin waktu untuk segera menyergap kasur. Kita sepakat untuk pulang aja, karena emang udah malem banget. Sebelum berpisah aku bilang ke reni “Jika yang kamu maksud aku berubah di awal tadi, karena jarang dan bahkan tidak pernah kontak kamu lagi itu semua untuk kebaikan kita berdua, kamu udah tunangan kan dan sebentar lagi bakal menuju pelaminan, kamu ngerti kan maksud aku?, aku ngga mau kita tetap terbawa cerita kita yang dulu, cukuplah itu menjadi cerita. Tapi jujur saja, aku masih yang dulu, zenal yang masih berusaha memantaskan diri untuk kamu ren, walau aku tahu kamu akan segera menjadi milik pria lain”. Reni mulai terisak walau dia berusaha untuk menahannya masih saja terlihat jelas hal itu dimatanya. Akhirnya tangis pun tidak terelakan lagi, reni pergi meninggalkanku dengan tangisnya. Sampai saat itu, masih jadi tanda tanya bagiku apa yang membawa reni kepadaku hari ini. Sejak hari itu kita tidak pernah kontak sama sekali melalui media apapun, hingga pada akhirnya aku mendengar kabar bahwa reni memutuskan pertunangannya, menurut ani teman akrab reni bilang kalau pria tunangan reni itu adalah seorang gay. Pertuangannya dengan reni hanya untuk menutupi hal tersebut dari keluarganya. Bersambung…..

Komentar via Facebook

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.